Minggu, 20 Januari 2013

Mencacah hati

                                                 
Mungkin itu kamu yang sengaja meninggalkan rindu.
Mencacah hati dengan pisau, mengganti minumku dengan racun yang sbelumnya madu.

Mungkin itu kamu, yang turun satu-satu bersama hujan.
Mengingatkanku pada kenangan. Kenangan yang belum terlupakan.

Mungkin itu kamu, yang mengikat kakiku dengan rindu.
Terseok-seok aku melangkah dengan cintamu.

Mungkin itu kamu, yang membubuhkan mimpi di gelas kopiku tadi pagi.
Hingga pahitnya tak lagi terasa.

Mungkin itu kamu, yang menyuruh kenangan mengetuk pintu.
Masuklah, kuncinya masih sama.
Tapi jangan lama.

Mungkin itu kamu yang terjebak dalam pikiran.
Cepatlah temukan jalan keluar.
Sebelum aku gila, lalu menguncimu selamanya disana.

berbajukan cinta

                                                       
kala rasa ini masih terkubur
jauh di dalam hati

aku tau
kala ini bukan waktunya
untuk menggali kembali
ataukah belum saatnya

aku tau
walaupun terkadang tak ingin
rasa itu melekat
mengendap
dalam

katanya
cinta sejati itu hanya tersembunyi
dan menyembul
di kala tak terduga

katanya
cinta itu murni
mungkin seperti intan
yang sama-sama terkubur
jauh
ja uh
j a u h
di dalam bumi
dan satu saat tergali
dengan nilai tak hingga

hingga hati ini mempertanyakan
patutkah rasa itu
berbajukan cinta

kupu-kupu yang menggoda

                                                 
sekarang aku memilih
bersahabat dengan kata-kata
berteman dengan huruf-huruf

bukan inginku kau berlari-lari
seperti kupu-kupu yang menggoda

bukan inginku kau tiba-tiba menghilang dari ingatan
walaupun baru saja berjumpa

harapku kau menerimaku
menjadi sahabat yang menolongku
dikala aku membutuhkan

harapku kau mudah kupahami
menjadi teman setia
dikala aku memahamimu

harapku kau cepat menghampiri
menjadi sahabat
dikala aku merangkaimu

Pesan Mentari

                                                       
Di sana kau merindukan mentari
yang masih malu-malu bersembunyi di balik awan
apa yang akan kau ceritakan pada mentari
bila ia terbang ke sana

baiklah,
akan kusampaikan pada mentari
yang kerap menghampiriku
yang menghangatkanku
yang menemaniku
yang mendengarkanku
untuk singgah di tempatmu

entah,
apakah kau akan bertanya pada sang mentari
tentang ceritaku

bila kau bertanya
mentari akan bercerita
di sini aku merindukanmu
berharap kau yang menjadi mentariku
siang dalam terang
malam berbaju bulan

mentari akan menyampaikan pesanku
supaya kau menghampiriku
menghangatkanku, menemaniku
dan mendengarkanku

Sajak Jingga Lembayungsenja

                                                       
Akal boleh berlogika.
Mengatakan ya dan tidak
Mau dan tidak mau
Ini begini ini begitu

Tapi hati
Tidak bisa berbohong
Karena hati ini bukan milikku
Dan juga bukan milikmu
Tapi milik-Nya

By :
Sajak Jingga Lembayungsenja

Tuhan tidak tidur

                                                
ini adalah bulan menutup malam dalam tiga hitungan,
lalu membuka pagi pelan-pelan dalam dua hitungan, yang berkali-kali.

Tuhan tidak tidur,
tidak terganggu oleh denting lonceng pada penanda waktu setiap ia terbuka dan tertutup.

Ia mencatat setiap hitungan yang keluar dari mulut para pemimpi,
Ia mengingat setiap hitungan yang tunai dari hati para pendoa.

ini adalah bulan dengan ribuan bintang penjaga langit,
siap menemani perjalanan setiap doa yang terpanjat,
hingga selamat mereka sampai di meja sang Tuhan.

Selepas Hujan..

                                                   
keadaan yang berlalu
waktu terus berputar dalam roda kehidupan
menyusuri setapak kehidupan yg terus berlalu disisinya
kadang terik, kadang badai, kadang padang bunga, kadang tanah yg kering di laluinya...
tapi semua itu layaknya kenangan akan kehidupan yg terkenang,
menggenang layaknya air selepas hujan...
menghadirkan pelangi selepas mendung...
menghangatkan jiwa melalui seberkas mentari...

awan yg gelap perlahan menjadi langit yang biru...
dan berakhir dgn senja saat kesepian menyapa pelan...

Coba engkau rasakan

                                                  
Coba engkau rasakan apa yg ku rasakan..
Bila rasaku ini sanggup engkau rasakan..
Sanggup kah engkau melewati malam tanpa hangatnya kasih?
Sanggupkah engkau berjalan tanpa arah tujuan?
Sanggupkah melewati sepinya hari-hari tanpa cinta?
Sanggupkah engkau rasakan perih dihatiku?
Ku coba untuk tak akan menggores perih dihatimu..
Ku coba untuk tak melukis kepedihan cintamu..
Ku coba tuk selalu memahami apa yg engkau mau..
Ku coba untuk selalu membahagiakan walau engkau bukan milikku..
Ku coba untuk selalu membuatmu tersenyum walau pedih hatiku karena bukan hanya aku yg ada dihatimu..

Coba bayangkan betapa hancurnya hatiku tanpa kasihmu?
Coba untuk pahami betapa besar cintaku kepadamu?
Coba untuk sekali saja mengerti perasaan hatiku?

Aku memang terlanjur mencintaimu, seluruh jiwa dan tubuhku ku serahkan padamu.
Meskipun cintamu tak hanya untukku..

Potret Itu

                                                         
Potret Itu

Seribu kali wajahmu
kupajang,
kupandang,
kupegang potretmu,
kusentuh,
kurasakan,
seolah itu benar2 kamu,
sejuta kali,
entah akan berapa kali lagi,
kupajang,
kupandang,
dan
kupegang,
potretmu,
hingga aku yakin,
kau memang benar-benar telah pergi.

Rindu tak punya Muara

                                                         
karena rindu tak punya batas waktu,
matahari tidak pernah benar-benar mengajaknya berlomba mendahuluinya.


karena rindu tak punya hulu, juga muara,
ia adalah aliran yang mengawang antara dua tempat pulang, yang sama-sama lebih luas dari samudra.


karena rindu tidak kenal masa lalu atau masa depan,
baginya sepanjang ia berdetak, entah cinta masih hidup atau mati, adalah saat ini.

. . .

karena hanya rindu yang bisa menemukanmu,
sampai pada jarak aman untuk semata memandang punggungmu, lalu kembali.

sayang, aku rindu kamu..
apa kamu juga merasa yang sama?

Secangkir Pagi

                                                      
secangkir pagi yang hangat dengan percakapan bisu
bisu dalam kata, dalam detak, dalam semesta
semarak pada telinga namun kosong dalam jejantung
entahlah mungkin waktu akan menyeduhnya menjadi pekat
dan pada satu seruputnya hati berkata jujur
ada kehilangan yang menarikan kepul asap berarakarak
ada pula sesak yang terus teriak meronta

Ketersesatan Membaca Peta

                                                         
Ada kalanya kita terjebak dalam ruang bungkam yang tak terjemahkan dalam kekata.
mungkin orang bilang itu rasa yang tak terdefinisikan,
namun untukku tidak hanya sekadar itu.
semacam ketersesatan dalam membaca peta ketika kita tidak tahu berada di mana.
semacam persimpangan buram antara salah dan benar.
semacam keadaan gelap dan buta untuk membaca hati.
mungkin juga keadaan di mana kita kehilangan kemampuan untuk memilah mana yang perlu diurus dengan hati,
mana yang perlu diurus dengan nalar.
semua teraduk jadi satu.

dan saat itu mungkin hanya bisa terdefinisikan dengan hilang dalam ketersesatan.

Ajariku Merenung

                                                    
Aku mengenalmu seperti aku mengenal hujan, tanpa kesengajaan.
Sesaat seperti gerimis saja. Gerimis saja.
Tapi sepanjang kujejak jalan, kurasakan bahwa kau tidak hanya gerimis.
Kau hujan, kau deras.

Kau mengajakku menikmati suatu waktu yang menjadi momentum.
Tentang penghargaan, tentang senyum dan ketulusan.

Aku tak pernah melihat rupamu, tak sesering hujan deras di kota ini.
Aku hanya tahu kau selalu ada saat kubutuhkan,
kau menentramkan dan memberi kedamaian.

Aku tergelak saat kau sarankanku tersenyum..
aku menangis saat kau ajariku merenung..

Kau istimewa di hati,
seistimewa suara hujan saat aku merindukan tidur yang nyenyak.

Bolehkah aku mengucapkan sesuatu untukmu?
Aku menyayangimu dengan ketiadaan.
Aku menyayangimu dengan kesederhanaan.

Itulah, kukatakan kau istimewa, sangat istimewa.
Semangatmu membara tapi meneduhkan setiap hati.
Harapanmu tinggi namun merendahkan ambisi.

Baru setelah kudengar penuturanmu, air mataku leleh.
Kau memang istimewa.
Istimewa dengan ketulusanmu.

Biarkan aku ucapkan terima kasih dan sedikit pujian untukmu, untuk semua ini.
Untuk kasih sayangmu, dan untuk tingkahmu yang begitu menghormatiku.
Kau adalah hujan, bukan gerimis. Kau deras.

Seribu Mawar

                                                           
Ingin ku bangun kan engkau sebuah gunung
Agar ketika hatimu berkecambuk
Kau dapat menyepi kesana
mencari tentram

Ingin ku tangkar dan kubingkai sepuluh kupu_kupu
Agar kala sedih tiba
kau dapat membuka bingkai itu
untuk memberimu riang

Ingin kugapai dan ku persembahkan seratus pelangi
agar dapat bersamamu mengusir sedih

Ingin kupetik dan ku rangkai seribu mawar
agar kala kemarau tiba
Aku dapat bersamamu menebar senyum

Hatiku ruah dengan semangat membumbung
untuk merangkum hatimu dan membuatnya girang dengan sejuta impian

Aku berikan diriku
agar kau dapat mengejar mimpi riang
Dan kau dapat mengejar mimpi riang dan aku sadar saudaraku
diriku terbatas
aku sedang belajar
menggapai pelangi
menanam mawar
mengejar kupu kupu
membangun gunung

namun
sementara aku belajar melakukan semua itu
kumohon
maafkan keterbatasanku yang senantiasa mengkhawatirkanmu.....

Fenomena Lembayungsenja

Mata Berjuta Makna


                                                     
Jumlahnya cuma dua
Tak banyak namun indah
Entah kenapa menatapnya bikinku betah
Ini cerita tentang kedua bola mata
Milikmu..

Ketika ditatap
Tersungging senyum malu disana
Sama, aku juga rasa yang sama
Namun, aku tak mau kehilangan momen kita
Momen ketika kedua pasang bola mata ini bertemu
Dua pasang bola mata kita

Bahagia kurasa
Inikah rasanya menatap bola mata
Entah,
Tapi kurasa ini karena bola mata itu,
Milikmu

Kadang raga sering lakukan salah
Hingga buatmu ragukan cinta
Tapi tatap mataku
Ku berjanji tak ada cinta dusta
Jika kamu melihatnya dalam-dalam

Ah,
Padahal ini bisu,
Tak bersuara
Namun seolah berkata
Bahkan, ia bisa memiliki berjuta makna

Mata berjuta makna
Mata insan yang saling jatuh cinta

I'itikafku


                                                                         
Terimalah I'itikafku ini Ya Allah
Agar aku larut dalam kesyahduan tiupan angin dimalam malam sepiMu
Bersama desahan desahan tasbih
Bintang berkelip mesra serta sinar rembulan yang bersholawat tiada henti
Disetiap selendang ujung jingga warna senja
Agar kurasakan senyuman nadi yang berdenyut karena keagungan namaMU
Dan dengup jantungku yang selalu bersenandung pujian hanya untukMu
Hingga tabir langit terkuak pancarkan keindahan cahaya cintMu disetiap celanya
Biarkan tubuhku luluh dalam getar simpuh hingga dosaku hanyut dalam tatapanMu

Ya Rabby
Bimbinglah aku untuk relakan qalbu tenggelam dalam lautan hidayahMu
Agar lebur segala benci yang menyisip dalam dadaku
hingga zarah zarah keangkuhanku terkikis oleh pijar matahariMu dengan limpahan maafMu

Duhai pujaan hati
Inzan yang merindui haruman surga
Inilah aku yang tertatih membawa langkah mengembara mencari jalan cintaMu
Demi mengharap rengkuh ampunanMu dan seteguk belas kasihMu
meski terasa begitu penat sayap sayapku
Namun aku tak akan henti mengepakannya
Mengarungi lautan Luh kalamMu

Sajak syair Penuh Suka Cita


                                                                         
Sajak syair tak habis kita rangkai dalam kanvas hati kita
Asa kadang tak puas hanya tersirat tan tersurat
Jejak jejak pena menari bagai tarian jawa nan gemulai
Anggun putri berpakaian kebaya
Keakraban terlintas disapa nan bersahaja

Jemputlah Cinta dengan penuh suka cita
Ikatlah hati dengan kalam Illahi semua berjalan LILAHI TA'ALLA
Nuansa romantika cinta,menjadikan sajak kian mengena pada jiwa jiwa pemintal aksara
Gaung kerinduan laksana pujangga merindukan langit senja merona jingga
Genggamlah pena guratlah aksara
Agar kian damai dalam alunan hati yang penuh pesona

Lembar demi lembar kita uraikan agar tiada lagi terpisah
Elegi dua rasa dalam satu wadah
Memenuhi ruang mayapada dialtar Fenomena
Berjalan laksana Laskar laskar Langit yang tampak kesatria
Ajaklah para penikmat terbuai tembang tembang jiwa
Yang akan membawa sebuah kisah didermaga senja dilangit cintaku
Uraian demi uraian kehidupan kita pintal selaras nyanyian hati
Namun bukan kita tak mampu memendam kata hanya jiwalah yang mengena asa
Gaung dalam gema kita suarakan dalam
Senandung syair jiwa jiwa perindu
Elakan segala ego yang menampar bagai congkaknya camar
Nuansa cinta,religi,canda,tawa dan airmata kita renda dalam aksara indah yang membias diAksara Indah Dalam Alunan Hati
Jemputlah tangan tangan yang gemulai menarikan pena
Agar tetap menyatu dalam hati sang Fenomena

26 Desember 2012
Aidah
Fenomena Lembayungsenja & Fenomena Hati
Flag Counter