Rabu, 10 Desember 2014

Minggu, 20 Januari 2013

Mencacah hati

                                                 
Mungkin itu kamu yang sengaja meninggalkan rindu.
Mencacah hati dengan pisau, mengganti minumku dengan racun yang sbelumnya madu.

Mungkin itu kamu, yang turun satu-satu bersama hujan.
Mengingatkanku pada kenangan. Kenangan yang belum terlupakan.

Mungkin itu kamu, yang mengikat kakiku dengan rindu.
Terseok-seok aku melangkah dengan cintamu.

Mungkin itu kamu, yang membubuhkan mimpi di gelas kopiku tadi pagi.
Hingga pahitnya tak lagi terasa.

Mungkin itu kamu, yang menyuruh kenangan mengetuk pintu.
Masuklah, kuncinya masih sama.
Tapi jangan lama.

Mungkin itu kamu yang terjebak dalam pikiran.
Cepatlah temukan jalan keluar.
Sebelum aku gila, lalu menguncimu selamanya disana.

berbajukan cinta

                                                       
kala rasa ini masih terkubur
jauh di dalam hati

aku tau
kala ini bukan waktunya
untuk menggali kembali
ataukah belum saatnya

aku tau
walaupun terkadang tak ingin
rasa itu melekat
mengendap
dalam

katanya
cinta sejati itu hanya tersembunyi
dan menyembul
di kala tak terduga

katanya
cinta itu murni
mungkin seperti intan
yang sama-sama terkubur
jauh
ja uh
j a u h
di dalam bumi
dan satu saat tergali
dengan nilai tak hingga

hingga hati ini mempertanyakan
patutkah rasa itu
berbajukan cinta

kupu-kupu yang menggoda

                                                 
sekarang aku memilih
bersahabat dengan kata-kata
berteman dengan huruf-huruf

bukan inginku kau berlari-lari
seperti kupu-kupu yang menggoda

bukan inginku kau tiba-tiba menghilang dari ingatan
walaupun baru saja berjumpa

harapku kau menerimaku
menjadi sahabat yang menolongku
dikala aku membutuhkan

harapku kau mudah kupahami
menjadi teman setia
dikala aku memahamimu

harapku kau cepat menghampiri
menjadi sahabat
dikala aku merangkaimu

Pesan Mentari

                                                       
Di sana kau merindukan mentari
yang masih malu-malu bersembunyi di balik awan
apa yang akan kau ceritakan pada mentari
bila ia terbang ke sana

baiklah,
akan kusampaikan pada mentari
yang kerap menghampiriku
yang menghangatkanku
yang menemaniku
yang mendengarkanku
untuk singgah di tempatmu

entah,
apakah kau akan bertanya pada sang mentari
tentang ceritaku

bila kau bertanya
mentari akan bercerita
di sini aku merindukanmu
berharap kau yang menjadi mentariku
siang dalam terang
malam berbaju bulan

mentari akan menyampaikan pesanku
supaya kau menghampiriku
menghangatkanku, menemaniku
dan mendengarkanku

Sajak Jingga Lembayungsenja

                                                       
Akal boleh berlogika.
Mengatakan ya dan tidak
Mau dan tidak mau
Ini begini ini begitu

Tapi hati
Tidak bisa berbohong
Karena hati ini bukan milikku
Dan juga bukan milikmu
Tapi milik-Nya

By :
Sajak Jingga Lembayungsenja

Tuhan tidak tidur

                                                
ini adalah bulan menutup malam dalam tiga hitungan,
lalu membuka pagi pelan-pelan dalam dua hitungan, yang berkali-kali.

Tuhan tidak tidur,
tidak terganggu oleh denting lonceng pada penanda waktu setiap ia terbuka dan tertutup.

Ia mencatat setiap hitungan yang keluar dari mulut para pemimpi,
Ia mengingat setiap hitungan yang tunai dari hati para pendoa.

ini adalah bulan dengan ribuan bintang penjaga langit,
siap menemani perjalanan setiap doa yang terpanjat,
hingga selamat mereka sampai di meja sang Tuhan.

Selepas Hujan..

                                                   
keadaan yang berlalu
waktu terus berputar dalam roda kehidupan
menyusuri setapak kehidupan yg terus berlalu disisinya
kadang terik, kadang badai, kadang padang bunga, kadang tanah yg kering di laluinya...
tapi semua itu layaknya kenangan akan kehidupan yg terkenang,
menggenang layaknya air selepas hujan...
menghadirkan pelangi selepas mendung...
menghangatkan jiwa melalui seberkas mentari...

awan yg gelap perlahan menjadi langit yang biru...
dan berakhir dgn senja saat kesepian menyapa pelan...

Coba engkau rasakan

                                                  
Coba engkau rasakan apa yg ku rasakan..
Bila rasaku ini sanggup engkau rasakan..
Sanggup kah engkau melewati malam tanpa hangatnya kasih?
Sanggupkah engkau berjalan tanpa arah tujuan?
Sanggupkah melewati sepinya hari-hari tanpa cinta?
Sanggupkah engkau rasakan perih dihatiku?
Ku coba untuk tak akan menggores perih dihatimu..
Ku coba untuk tak melukis kepedihan cintamu..
Ku coba tuk selalu memahami apa yg engkau mau..
Ku coba untuk selalu membahagiakan walau engkau bukan milikku..
Ku coba untuk selalu membuatmu tersenyum walau pedih hatiku karena bukan hanya aku yg ada dihatimu..

Coba bayangkan betapa hancurnya hatiku tanpa kasihmu?
Coba untuk pahami betapa besar cintaku kepadamu?
Coba untuk sekali saja mengerti perasaan hatiku?

Aku memang terlanjur mencintaimu, seluruh jiwa dan tubuhku ku serahkan padamu.
Meskipun cintamu tak hanya untukku..

Potret Itu

                                                         
Potret Itu

Seribu kali wajahmu
kupajang,
kupandang,
kupegang potretmu,
kusentuh,
kurasakan,
seolah itu benar2 kamu,
sejuta kali,
entah akan berapa kali lagi,
kupajang,
kupandang,
dan
kupegang,
potretmu,
hingga aku yakin,
kau memang benar-benar telah pergi.
Flag Counter